Berwisata Budaya di Kota Denpasar

Dahulu, Denpasar merupakan ibukota dari Provinsi Bali sekaligus ibukota dari Kabupaten Badung. Pada tahun 1992, akhirnya diresmikan pembentukan Kota Denpasar. Hal ini menyebabkan Provinsi Bali akhirnya memiliki 9 wilayah tingkat dua berupa 8 kabupaten dan 1 kota madya. Sementara Kabupaten Badung kehilangan sebagian wilayahnya dan pada akhirnya menetapkan “Mangupura” sebagai nama ibukota kabupaten dan pusat pemerintahan dipindakan ke Desa Sempidi yang kini dikenal sebagai Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupura Praja.

Kembali ke Kota Denpasar, kota cantik ini punya sejarah yang panjang sejak masa kerajaan di Bali hingga masa penjajahan dan setelah kemerdekaan. Kenapa membahas sejarah ketika ingin membahas tentang pariwisata? Karena banyak sekali objek-objek wisata budaya di Denpasar yang punya sejarah yang menarik, tempat-tempat seperti mall, cafe, restoran dan sebagainya juga banyak ada di tempat lain, tapi Kota Denpasar menyimpan tempat-tempat menarik yang sulit ditemukan di kota lain.

Pantai Sanur

Pantai Sanur adalah sebuah tempat wisata lengkap. Bagi yang ingin menikmati matahari terbit, Pantai Sanur dan pantai-pantai lain di sekitarnya adalah salah satu spot terbaik di Denpasar. Tapi, jangan berharap bisa menikmati sunset di Pantai Sanur ūüôā

Di tempat ini terdapat deretan tempat makan yang enak-enak dan juga beberapa hotel dari kelas melati hingga bintang 5. Jika mau sedikit berjalan-jalan, bisa menikmati Museum Le Mayeur. Museum ini sendiri punya sejarah yang tidak kalah menarik. Adrien-Jean Le Mayeur adalah seorang pelukis asal Belgia yang datang ke Bali tahun 1932, singkat cerita dia jatuh cinta dengan budaya Bali dan memilih untuk menetap. Dia kemudian menikah dengan Ni Nyoman Pollok, seorang penari legong yang awalnya merupakan model dalam lukisan Le Mayeur.

Le Mayeur membeli sebidang tanah dan membangun rumahnya di Sanur (yang sekarang menjadi Museum Le Mayeur). Hingga akhirnya tanah dan rumah tersebut diberikan kepada Ni Pollok sebagai hadiah dari Le Mayeur, namun pada akhirnya Ni Pollok memberikan kepemilikan tanah dan rumah tersebut kepada pemerintah Indonesia sebagai museum.

Monumen Perjuangan Rakyat Bali

Monumen Perjuangan Rakyat Bali, dikenal pula dengan nama Monumen Bajra Sandhi. Terletak di kawasan Renon, tepatnya di depan Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Bali. Monumen ini merupakan penghormatan kepada para pahlawan dan juga melambangkan semangat perjuangan raykat Bali dari generasi ke generasi serta semangat menjaga keutuhan NKRI.

Bentuk dari monumen ini adalah berupa bajra atau genta yang digunakan para pendeta Hindu saat upacara keagamaan. Mengikuti konsep Tri Mandala, monumen ini terbagi menjadi 3 yaitu :

  • Utama Mandala, bagunan utama di tengah-tengah monumen
  • Madya Mandala, lapangan¬†yang mengelilingi Utama Mandala
  • Nista Mandala, lapangan¬†yang mengelilingi Madya Mandala

Di Utama Mandala sendiri memiliki 3 lantai. Lantai paling bawah mencakup ruangan administrasi, perpusatakaan dan ruang pameran. Terdapat juga sebuah “danau” yang disebut Puser Tasik. Di lantai 1 terdapat 33 diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Bali (mirip dengan diorama yang ada di Monas, Jakarta). Dan lantai teratas menawarkan pemandangan Kota Denpasar.

Museum Bali & Lapangan Puputan Badung

Museum Bali adalah salah satu dari sekian banyak museum yang ada di Pulau Bali atau khususnya di Kota Denpasar. Namun, perbedaan mendasarnya adalah Museum Bali memamerkan berbagai benda-benda yang berasal dari masa lampau sejak masa pra-sejarah yang ditemukan di Bali seperti peralatan makan dan sebagainya. Hal ini tentu sedikit berbeda dengan museum lain di Bali yang lebih banyak memamerkan hasil karya seni yang tidak kalah menariknya.

Tepat di depan museum ini terdapat sebuah lapangan yang dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung atau nama resminya, Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung. Di kawasan ini terdapat Monumen Puputan Badung dan juga titik nol Kota Denpasar.

Bicara tentang “Puputan”, kata ini memiliki arti “habis-habisan” atau bisa diartikan sebagai “sampai titik darah penghabisan”. Tahun 1906, pernah terjadi pertempuran antara Pasukan Belanda dengan senjata lengkap mereka melawan rakyat Bali yang hanya bersenjatakan tombak, keris dan senjata tradisional lainnya. Memakan lebih dari 4000 korban jiwa yang sebagian besar merupakan rakyat Bali dan keluarga raja Denpasar, peristiwa tersebut menunjukan bagaimana rakyat Bali begitu mencintai tanah kelahirannya.

Sebenarnya ada banyak lagi tempat wisata budaya menarik yang ada di Kota Denpasar. Tapi, 3 tempat tersebut merupakan yang paling mudah dijangkau dan sangat wajib untuk didatangi.

Kelebihan Investasi Online Di Trimegah
41 Istilah Penerbangan Ini Wajib Kamu Ketahui Sebelum Naik Pesawat
Rumah Dijual di Depok Harga Di Bawah 100 Juta
Rumah Dijual Di Bandung Harga Murah Tanpa Perantara
Tips Sukses Merintis Bisnis Barber Shop di Kota Besar
Mengalahkan Facebook, Instagram jadi Sarang Cyber-Bully Nomor 1
Bahayanya Kencing di Kolam Renang
Hellblade, Game “Indie AAA” dan Penyakit Kejiwaan
Review Dunkirk, Bukan Dokumentasi Battle of Dunkirk
Review Nine Lives, Film untuk Keluarga Pecinta Kucing
Electro Swing, Perpaduan yang Terasa “Salah”
Tangan Midas Sutradara Anime Makoto Shinkai
Bedanya Suka, Cinta & Nafsu
Keseringan Chatting Bikin Hubungan Renggang?
Penulis Buku Harian Adalah Tipe Kekasih yang Baik
Kado Natal Unik Untuk Gamer Terkasih
Mengalahkan Facebook, Instagram jadi Sarang Cyber-Bully Nomor 1
Qualcomm dan Vivo Memamerkan Fingerprint Dibawah Layar
KSKAS Malware Menyerang Android via Download APK Otomatis
Hellblade, Game “Indie AAA” dan Penyakit Kejiwaan