Fuchsia OS, Calon Pengganti Android?

Pada Juli 2018, Uni Eropa menjatuhkan denda senilai 72,8 triliyun Rupiah kepada Google karena dianggap telah melakukan monopoli dan persaingan tidak sehat di pasar smartphone dengan menggunakan Android mereka. Uni Eropa menganggap bahwa Google ‘memaksa’ manufaktur smartphone yang menjalankan Android untuk menginstal produk-produk Google seperti Gmail, Google Search dan Google Play Store. Ditambah fakta bahwa Android saat ini menguasai hampir 85% pasar smartphone secara global dibanding pesaing terdekatnya yaitu Apple dengan iOS-nya yang hanya menguasai sekitar 15% pasar.

Ke depannya, Uni Eropa mungkin saja akan mengincar Apple karena beberapa tindakan yang dilakukan Apple seperti ‘melarang’ penggunanya menginstall aplikasi selain dari App Store mereka dan tidak mengijinkan aplikasi pihak ketiga sebagai aplikasi default bisa dikategorikan sebagai tindakan monopoli.

Terkait dengan denda senilai lebih dari 70 triliyun Rupiah yang harus dibayar oleh Google, sampai artikel ini ditulis, Google masih melakukan proses banding. Walau, pada kenyataannya, jumlah tersebut bisa dibayarkan oleh Google hanya dengan keuntungan yang didapat selama 2 minggu beroperasi. Pihak Google pun mengancam bahwa jika mereka tetap harus membayar denda tersebut, maka ke depannya, Android tidak akan lagi gratis. Dan jika Android tidak lagi gratis, dipastikan bahwa ponsel-ponsel yang tetap ingin menjalankan Android akan memiliki harga yang sama dengan produk-produk premium dari Apple.

Kemudian, muncullah laporan dari Bloomberg di bulan yang sama yang mengatakan bahwa para developer yang bekerja dibalik Fuchsia OS mengatakan bahwa dalam 3 tahun, sistem operasi mereka akan bisa diterapkan pada speaker pintar dan perangkat smart home lainnya dan dalam lima tahun, sistem operasi baru ini akan siap untuk menggantikan posisi Android saat ini.

Fuchsia OS, Calon Pengganti Android? 1

Untuk yang belum tahu, Fuchsia OS adalah proyek open-source yang dikerjakan oleh Google secara diam-diam. Proyek ini pertama kali diketahui oleh media pada Agustus 2016 melalui GitHub. Dari kode dan dokumentasi yang terdapat di laman GitHub tersebut, Fuchsia OS diketahui tidak lagi menggunakan kernel Linux, tapi beralih menggunakan kernel Zircon (dulunya dikenal sebagai Magenta). Fuchsia OS sendiri didesain untuk bisa berjalan secara universal, mulai dari lampu lalu lintas hingga smartphone bahkan PC.

Mei 2017, Fuchsia OS mendapat update penting seperti pembaruan user interface (UI). Namun ,yang paling menarik perhatian adalah tulisan dari developernya yang mengatakan bahwa Fuchsia OS bukan lagi “proyek 20% (hanya dikerjakan di waktu luang -red)”. Laporan Bloomberg pada Juli 2018 juga mengungkapkan bahwa saat ini, Fuchsia OS dikerjakan oleh sekitar 100 orang karyawan Google, termasuk beberapa eksekutif divisi Android yang bekerja paruh waktu di Fuchsia OS.

Walau proyek Fuchsia OS ini tergolong sangat ambisius dan bahkan bisa sangat menguntungkan Google. Sebuah sumber mengatakan bahwa para eksekutif Google sebenarnya masih belum setuju jika sistem operasi baru ini akan menggantikan Android dalam waktu dekat. Sumber yang sama juga mengatakan bahwa Fuchsia OS hanya digunakan oleh Google agar para karyawan terbaik mereka tetap sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mencari peluang kerja di tempat lain.

Terlepas dari kontroversi Fuchsia OS, sistem operasi baru ini sebenarnya akan benar-benar menguntungkan Google dan pengguna smartphone:

  1. Fuchsia OS bersifat open-source, sehingga, sama seperti Android, setiap orang bebas untuk melakukan modifikasi dan membuat ‘Fuchsia OS’ mereka sendiri.
  2. Fuchsia OS menggunakan kernel baru dan hal ini akan menghentikan ‘pertempuran’ paten yang dihadapi oleh Google dengan Oracle.
  3. Fuchsia OS bisa belajar dari Android dan memperbaiki ‘kesalahan’ yang dimiliki oleh Android. Secara teori, Fuchsia seharusnya bisa berjalan dengan lebih cepat, ringan dan hemat daya dibandingkan dengan Android.
  4. Fuchsia OS saat ini dibangun oleh 100% karyawan Google, sehingga hasil akhirnya bisa diatur agar menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dari produk-produk Google lainnya.