Piala Dunia 2018, Harga Telur dan Jagung

Pada 20 Juli 2018, Bloomberg, media asal Amerika Serikat, mempublikasikan sebuah berita berjudul “How the World Cup Made Eggs More Expensive in Indonesia“, jika diterjemahkan kira-kira menjadi “Bagaimana Piala Dunia Menyebabkan Harga Teluar jadi Lebih Mahal di Indonesia“. Beberapa orang menganggap bahwa berita ini adalah bentuk ‘ejekan’ dari media luar tersebut terhadap Indonesia, padahal kenyataannya, berita tersebut hanyalah sebuah berita.

Kita bahas masing-masing paragraf pada berita tersebut.

Pada paragraf pertama, laporan tersebut mengatakan bahwa saat ini harga telur mencapai harga tertinggi dalam dua tahun terakhir karena rendahnya pasokan dan tingginya permintaan selama ajang Piala Dunia 2018. Hal ini akhirnya membuat pemerintah harus ikut mengintervensi pasar. Di paragraf kedua, harga telur ini masih menjadi bahasan utama dengan data-data pendukung termasuk rata-rata harga telur nasional yang naik sebanyak 8%.

Pada paragraf ketiga dijelaskan bahwa telur merupakan salah satu sumber protein termurah untuk masyarakat Indonesia dimana banyak masyarakatnya masih memiliki penghasilan dibawah $2 per hari. Paragraf ini juga menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya menginginkan harga telur ada di angka Rp.22.000/kilogram, bukan Rp.30.000/kilogram seperti saat ini di beberapa pasar di Jakarta.

Nah, pada paragraf keempat baru dijelaskan apa hubungan antara Piala Dunia 2018 dengan kenaikan harga telur. Dilaporkan bahwa gelaran Piala Dunia 2018 membantu meningkatkan konsumsi masyarakat, khususnya penggemar sepakbola dalam mengkonsumsi mie instan dan telur. Tidak heran memang mengingat bahwa banyak pertandingan piala dunia berlangsung pada malam hingga dini hari dan umumnya, masyarakat Indonesia memang gemar mengkonsumsi mie instan ditambah telur sebagai ‘teman’ begadang yang murah dan bisa dibuat dengan cepat di rumah.

Piala Dunia 2018, Harga Telur dan Jagung 1

Masih pada paragraf yang sama, dijelaskan pula bahwa kenaikan harga tersebut karena rendahnya pasokan dari para peternak dikarenakan banyak ayam petelur yang disembelih karena meningkatnya permintaan daging ayam pada bulan-bulan sebelumnya. Pada paragraf lima, diungkapkan usaha pemerintah untuk mengintervensi pasar dengan memasok 100 ton telur untuk menekan harga.

Pada tiga paragraf terakhir, dijelaskan bahwa kenaikan harga ini dimulai menjelang Lebaran pada Juni 2018, dimana permintaan meningkat namun harga seharusnya sudah mulai turun saat ini. Kebijakan pemerintah untuk tidak melakukan impor jagung untuk pakan ternak menyebabkan harga pakan meningkat hingga pada akhirnya permintaan jagung untuk pakan ternak jauh lebih tinggi dari pasokan yang tidak meningkat. Akibatnya, harga pakan jadi mahal yang juga memberi dampak pada harga jual produk akhir seperti daging dan telur.

Fenomena naiknya harga telur setelah piala dunia memang sesuatu yang menarik, tidak heran media seperti Bloomberg pun ikut memberitakannya. Intinya, berita tersebut hanyalah berita yang berdasarkan fakta dan data, dibuat dengan judul yang membuat para pembaca jadi penasaran, seperti berita pada umumnya.