Kecerdasan Buatan dari OpenAI Mengalahkan Mantan Pemain DOTA 2 Profesional

Tahun 2017 lalu, kecerdasan buatan dari perusahaan OpenAI ‘menantang’ pemain DOTA 2 profesional, Danylo “Dendi” Ishutin dalam ajang exhibition match di The International 2017. Dalam pertandingan tersebut, OpenAI yang ‘berbentuk’ sebuah flashdisk, berhasil mengalahkan Dendi dalam sebuah pertandingan satu lawan satu. Beberapa minggu sebelum melawan Dendi, OpenAI juga mengklaim bahwa AI mereka juga telah berhasil mengalahkan pemain kelas dunia lainnya seperti Sumail “SumaiL” Hassan dan Artour “Arteezy”Babaev dalam format 1v1.

Setahun berselang dan ajang The International 2018 juga sudah di depan mata. Dalam beberapa bulan terakhir, OpenAI terus ‘melatih’ AI buatannya dengan membiarkan AI tersebut melawan dirinya sendiri dalam kecepatan belajar mencapai 180 tahun/ hari, artinya AI tersebut ‘mempelajari’ DOTA 2 yang harusnya membutuhkan waktu hingga 180 tahun hanya dalam waktu 1 hari. Walau terkesan luar biasa bahkan cenderung ‘menyeramkan’, namun DOTA 2 sendiri merupakan game yang sangat kompleks dan untuk menjadi seorang pemain profesional saja dibutuhkan waktu belajar antara 12.000 – 20.000 jam.

Jika pada tahun lalu, OpenAI berfokus pada pertandingan satu lawan satu, tahun ini OpenAI akan mencoba bermain DOTA 2 secara utuh yaitu lima lawan lima. Pada periode Mei 2018, OpenAI Five, versi terbaru dari OpenAI masih kalah melawan para pemain DOTA 2 yang baru belajar. Namun, sebulan berselang, OpenAI Five sudah berhasil mengalahkan para pemain DOTA 2 kasual. Pada awal Agustus, OpenAI Five berhasil menang melawan mantan pemain profesional DOTA 2 seperti Ben “Merlini” Wu, William “Blitz” Lee, dan Ioannis “Fogged” Lucas. Sementara David “Moon Meander” Tan sampai saat ini masih bermain sebagai pemain profesional dan juga ada komentataor Austin “Capitalist” Walsh.

Dalam tiga pertandingan tersebut, OpenAI berhasil menang dengan skor 2-1. Dimana pada pertandingan pertama, OpenAI benar-benar mendominasi pertandingan dan tidak membiarkan satu tower pun menjadi milik para mantan pemain DOTA 2 profesional. Di pertandingan kedua, para pemain DOTA 2 ini sudah mulai beradaptasi dengan permainan cepat dan tanpa ragu-ragu dari OpenAI, walau masih kalah, tapi mereka berhasil ‘mencuri’ satu tower. Pada pertandingan terakhir, dominasi OpenAI masih terasa namun Capitalist dan kawan-kawan berhasil mengklaim kemenangan di pertandingan ketiga ini.

Pertandingan antara OpenAI melawan manusia ini memang masih terbatas, hanya menggunakan 18 dari total 100 hero lebih yang dimiliki DOTA 2 dan kurir yang dibuat invincible. Namun, walau dengan penyederhanaan ini, manusia masih terlihat kewalahan melawan OpenAI dalam beberapa pertandingan. Karena, OpenAI tidak memiliki keragu-raguan dan hanya bertindak berdasarkan prediksi dan perhitungan paling efektif dan efisien.