Review Extinction, Plot Twist Terbaik Dalam Film Alien Invasion

Extinction bisa disebut sebagai film ‘kelas dua’ yang walau masuk dalam genre sci-fi/misteri namun tidak jor-joran dalam menyediakan visual effect kelas dunia. Sebaliknya, film ini menggunakan jalan ceritanya dengan sangat baik, jadi walau sebenarnya sangat sederhana, namun tetap bisa memukau para penontonnya. Tahun 2013 lalu, skrip untuk film ini masuk dalam “Black List”, yaitu daftar skrip film terbaik yang belum diproduksi, lebih dari 250 eksekutif studio di Hollywood memberikan suara mereka untuk skrip film ini.

Pada 2016 lalu, James McAvoy, pemeran Profesor X dalam seri film X-Men dikabarkan dengan dinegosiasi untuk menjadi bintang utama pada film ini. Namun, pada akhirnya, peran McAvoy digantikan oleh Michael Peña yang beradu peran dengan Lizzy Caplan dan Mike Colter. Untuk urusan musik, komposer untuk film ini adalah The Newton Brothers yang juga ikut terlibat dalam musik-musik film horror seperti Oculus dan Oija.

Sinopsis Extinction

Peter (diperankan Michael Peña), seorang ayah dengan dua putri akhir-akhir ini sering mengalami mimpi buruk mengenai invasi alien dan keselamatan keluarganya. Mimpi yang sama terus terjadi berulang-ulang hingga membuat sang istri, Alice (diperankan Lizzy Caplan) merasa cemas dengan keadaan suaminya. Mimpi-mimpi buruk ini akhirnya mempengaruhi pekerjaan Peter dan membuat bossnya, David (diperankan Mike Colter) merekomendasikan sebuah klinik pada Peter.

Karena sadar bahwa mimpi buruknya tidak hanya mempengaruhi pekerjaannya namun juga keluarganya, Peter memutuskan untuk datang ke klinik yang direkomendasikan oleh David. Namun, di klinik ini, Peter bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa klinik tersebut akan menghapus ingatan pasiennya dan membuat mereka lupa dengan mimpi-mimpi buruk tersebut, padahal kenyataannya, pemerintah mengetahui tentang hal itu namun mereka hanya tidak ingin terjadi kepanikan massal.

Review Extinction, Plot Twist Terbaik Dalam Film Alien Invasion 1

Peter kemudian memutuskan untuk pulang dan tidak menjalani terapi. Di rumahnya, sedang diadakan pesta untuk merayakan keberhasilan Alice dengan proyek besar perusahaannya. Peter tidak menghiraukan para tamu maupun istrinya dan terobsesi dengan mimpi-mimpinya. Saat pesta usai, mimpi Peter seakan menjadi kenyataan dengan berdatangannya kapal-kapal asing yang menyerang kota mereka. Bahkan, beberapa ‘alien’ dengan senjata memasuki gedung-gedung untuk membunuh setiap orang tanpa pandang bulu.

Peter dan Alice berusaha untuk menyelamatkan anak-anak mereka. Peter bahkan melawan salah satu alien yang memasuki rumahnya dan mengambil senjatanya. Di dalamnya mimpinya, Peter bertemu dengan bossnya, David di pabrik tempat dia bekerja. Peter pun memutuskan untuk membawa keluarganya ke tempat tersebut.

Perjalannya keluarga Peter tidaklah mudah, mereka harus menghindari kapal yang menghancurkan gedung dan pasukan alien bersenjata yang berusaha membunuh setiap orang. Menjelang akhir film, terdapat sebuah plot twist yang hanya bisa ditebak oleh mereka yang benar-benar memperhatikan aspek-aspek kecil pada film ini, namun jika tidak, maka plot twist ini merupakan salah satu yang terbaik dalam film dengan tema alien invasion semacam ini.

Review Extinction

Film ‘Kelas Dua’

Walau terbilang cukup menarik, namun Extinction tetaplah sebuah film ‘kelas dua’ yang memiliki jalan cerita dan pembangunan karakter yang cenderung biasa saja dan masih bisa dibuat lebih baik. Hal yang membuatnya menarik adalah bagian plot twist dan setelahnya yang seakan berusaha ‘membayar’ beberapa menit penuh kejenuhan diawal film.

Bukan hanya dari segi cerita dan membangunan karakter, kualitas film ‘kelas dua’ dari Extinction juga terlihat dari efek visual yang terasa dibuat sederhana hanya dengan memanfaatkan bentuk-bentuk bangunan dan pencahayaan yang terkesan futuristik.