Nama penyakitnya adalah hikikomori, pemerintah negeri sakura mendefinisikannya sebagai orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam masyarakat, terutama bekerja atau belajar, dan tidak memiliki hubungan selain dengan keluarga dekat. Hikikomori adalah sebutan untuk gejala sekaligus orang-orangnya, mereka akan menolak untuk keluar rumah dan mengisolasi diri lebih dari enam bulan (satu periode).

Pemberitaan di Indonesia umumnya mengabarkan tentang hikikomori yang terjadi di Jepang saja, tapi kenyataannya fenomena ini juga terjadi di Korea serta negara-negara Eropa seperti Italia dan Inggris. Hikikomori sudah ramai di Jepang sejak tahun 2000-an, dan pemberitaan tentang fenomena ini sudah masuk ke Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

hikikomori.jpg

Ada beberapa fakta mengejutkan seputar fenomena ini :

1. Kebanyakan hikikomori adalah laki-laki, penelitian di Jepang menunjukan orang yang mengalaminya 70-80% adalah laki-laki. Tapi, survei online yang dilakukan baru-baru ini menunjukan jumlah perempuan yang mengalaminya sekitar 47%.

2. Selama dua dekade terakhir, usia rata-rata orang yang mengalami hikikomori telah meningkat. Jika awalnya adalah 21 tahun, sekarang usia rata-rata yang mengalami hikikomori adalah 32 tahun.

3. Gejala sosial ini diketahui lebih banyak dialami oleh mereka yang merupakan sarjana atau sedang menjalani program pascasarjana. Ada pula yang menyebutkan kebanyakan dari mereka berasal dari golongan menengah (orangtuanya merupakan lulusan perguruan tinggi).

Berikut ini beberapa kisah dari orang-orang yang pernah mengalami hikikomori :

Gambar 3 untuk Penyakit Aneh Menyerang Satu Juta Orang di Jepang

Seorang pemuda bernama Hide mengatakan bahwa semuanya bermula ketika dia mulai bolos sekolah karena suatu alasan. Dia mulai menyalahkan dirinya, begitu pula dengan kedua orangtuanya. Akhirnya, dia takut keluar rumah dan bertemu orang-orang.

Hide kemudian mulai memutuskan semua komunikasi dengan teman-temannya, hingga pada akhirnya dengan orangtuanya. Untuk menghindari kedua orangtuanya, dia tidur sepanjang siang dan beraktivitas pada malam hari.

“Semua emosi negatif ada pada diriku. Keinginan untuk pergi keluar, kemarahan pada masyarakat dan orangtuaku, kesedihan karena mengalami kondisi ini, ketakutan tentang apa yang akan terjadi di masa depan dan kecemburuan pada mereka yang menjalani kehidupan normal.”

Seorang pemuda lain bernama Matsu mengatakan bahwa dia mulai menjadi hakikomori setelah dia tidak sepakat dengan orangtuanya mengenai karir dan pendidikan tingginya.

“Aku sehat secara mental, tapi orangtuaku mendorongku ke arah yang tidak mau ku tuju. Ayahku adalah seorang seniman yang memiliki bisnisnya sendiri, dia ingin aku melakukan hal yang sama.”

Matsu sebenarnya ingin menjadi programmer komputer dan bekerja di perusahaan besar. Tapi, ayahnya berkata jika di masa depan tidak akan ada masyarakat seperti sekarang. Maka dia memaksa anaknya untuk tidak jadi pekerja.

Seperti banyak penderita hikikomori lain, Matsu adalah anak tertua dan harus menanggung beban mengikuti keinginan orangtua. Dia merasa marah ketika melihat adiknya bisa melakukan apa yang dia inginkan.

Gambar 5 untuk Penyakit Aneh Menyerang Satu Juta Orang di Jepang

Tamaki Saito adalah seorang psikiater yang juga pernah mengalami hikikomori di masa mudanya. Dia kini membantu orang-orang yang mengalami hikikomori atau orangtua yang anaknya mengalami fenomena ini.

Dia mengatakan bahwa orang-orang sering menyamakan antara hikikomori dengan kemalasan anak-anak remaja. Orang yang mengalami hikikomori sebenarnya ingin pergi keluar rumah, ingin memiliki teman bahkan kekasih, tapi mereka tidak bisa.

Saito mengatakan untuk membuat para hikikomori mau kembali ke masyarakat, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan komunikasi mereka dengan orang terdekat terutama kedua orangtua. Karena hikikomori bukan hanya aspek psikologis, tapi juga aspek berkomunikasi dengan orang lain.

Setelah orang yang menderita hikikomori sudah mulai membuka diri pada keluarga dekatnya, maka mereka harus diajak berkomunikasi secara berkelompok. Terapi semacam ini biasanya membutuhkan waktu hingga enam bulan lamanya.

Gambar 7 untuk Penyakit Aneh Menyerang Satu Juta Orang di Jepang

Kenapa pemerintah Jepang menaruh perhatian besar bagi hikikomori? Jepang merupakan salah satu negara maju, tapi seperti fakta diatas bahwa hikikomori kebanyakan merupakan mereka yang berada pada usia produktif, ditambah fakta bahwa Jepang sedang mengalami penurunan jumlah populasi dengan angka kelahiran mencapai titik terendah, menurut laporan pada Januari 2015 lalu.

Jika tidak ditanggulangi, maka tentu akan berpengaruh pada perekonomian negeri sakura tersebut serta populasi penduduknya di masa depan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Seperti kata Tamaki Saito, di Jepang laporan mengatakan ada sekitar 700 ribu orang yang mengalami hikikomori, tapi dia menduga jumlahnya sudah mencapai lebih dari sejuta orang.

Di Indonesia mungkin belum ada laporan tentang fenomena ini, tapi bukan berarti fenomena ini tidak ada.

Write A Comment