Info Menarik

Persepsi Keliru Soal “Laser”, Si Lampu Pemecah Awan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa waktu yang lalu, sebelum dimulainya musim penghujan, wilayah Denpasar dan Badung dilanda rasa gerah yang luar biasa, bukan hanya pada siang hari, pada malam hari pun, rasa gerah itu pun masih terasa. Lalu, siapa yang disalahkan? Efek rumah kaca? Pemanasan Global? Bukan!

“Laser” begitulah orang-orang di Bali biasanya menyebutnya. Laser yang dimaksud disini bukanlah spektrum elekromagnetik yang biasa ditemui dalam industri untuk memotong logam. “Laser” disini adalah sebutan untuk lampu sorot yang biasa digunakan oleh event-event besar untuk menarik perhatian. Masih bingung membedakannya? Begini,

Gambar 1 untuk Persepsi Keliru Soal "Laser", Si Lampu Pemecah Awan

 

Laser yang sebenarnya, hanya dengan kekuatan 100 watt saja sudah cukup untuk memotong logam. Sementara, lampu sorot berkekuatan 2000 watt saja tidak akan bisa membakar pintu berbahan kayu.

Di luar negeri sana, lampu sorot/party lighting/laser ini digunakan sebagai pemeriah acara dan tentu saja sebagai penarik perhatian agar semakin banyak yang mengetahui dan datang ke tempat asal cahaya tersebut.

Kenapa “Laser” yang disalahkan? Hal ini tidak terlepas dari mitos di masyarakat bahwa lampu sorot tersebut bisa memecah awan, dengan kata lain, sinarnya dapat membuat hujan tidak turun. Entah darimana mitos ini berasal, tapi begitulah kenyataan di masyarakat.

Didukung lagi dengan tersebarnya Broadcast BBM yang isinya meminta para penyelenggara event besar untuk menghentikan penggunakan “Laser” agar hujan bisa turun di wilayah Denpasar dan sekitarnya.

Kenyataannya, persepsi ini salah besar. Kalau melihat dari ilmu fisika, silakan buka bagian tentang radiasi thermal, flux radiant, dan konstanta Stefan-Boltzman.

Dari hasil perhitungannya, kita anggap saja lampu sorot (Laser) bersuhu 100 derajat Celcius, memancarkan cahaya ke awan yang tingginya 90 meter diatasnya. Berapa suhu yang tersisa saat mencapai awan? Hanya 5 derajat Celcius dan itu tidak mampu untuk memanaskan apalagi memecah awan.

Kenyataan lainnya bahwa awan di daerah Denpasar, bukan setinggi 90 meter, tapi berkisar antara 600 – 900 meter. Sehingga sinar yang dipancarkan lampu sorot tidak akan berefek sama sekali. Sudah jelas?

 

Lalu, kenapa hujan tidak turun dan awan tampak ‘pecah’?

Ini disebut sebagai dinamika awan. Awan adalah sekumpulan titik air yang terkondensasi, bergerak dalam fluida di udara. Jadi, tidak heran jika awan selalu bergerka dan berubah bentuk.

Lalu, kenapa juga rasa gerah ini begitu menyiksaku?

Mungkin kamu lelah. Kemungkinan karena angin masih dominan berasal dari tenggara (angin kering). Apalagi, ditambah dengan kurangnya awan dilangit untuk menghalau teriknya sang mentari. Rasa panas yang kamu rasakan di malam hari karena cemburu buta sesuatu yang disebut sebagai efek rumah kaca.

Ibu pertiwi pada malam hari masih menyimpan panas dan melepaskannya ke langit, sayangnya, dilangit masih ada sang awan yang tidak mau menerima panas dari ibu pertiwi, hasilnya, panas kembali dipantulkan ke bawah. Jadi deh, panas berasal dari bawah dan dari atas, tambah panas deh.

Lalu, kapan semua ini akan berakhir?

Ketika angin tenggara sudah tidak lagi dominan dan angin barat berhembus membawa rintik-rintik hujan yang menyejukan jiwa dan raga.

Sumber : BaleBengong.Net

Write A Comment