img

Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

/
/
/
436 Views

Film bertema peperangan, secara umum hanya terbagi atas dua kategori, yaitu film yang menyajikan drama sengit dan ‘seru’-nya pertempuran atau film yang menampilkan drama dampak buruk dari sebuah peperangan. Contoh film yang menampilkan dampak peperangan bahkan bertahun-tahun kemudian, salah satunya adalah The Railway Man.

Tahun 2015, hadir sebuah film bertema perang yang lagi-lagi mengangkat dampak buruk dari sebuah perang, namun dari sudut pandang yang sangat menarik, seorang anak yang ‘mengangkat senjata’. Film ini merupakan original film dari Netflix.

Gambar 1 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Ceritanya diangkat dari novel berjudul sama yang ditulis oleh seorang keturunan Nigeria-Amerika bernama  Uzodinma Iweala. Judul ini diambil dari judul album “Beasts of No Nation” yang dirilis tahun 1989 oleh seorang musisi dan tokoh berpengaruh di Nigeria, Fela Kuti.

Sinopsis Beasts of No Nation (Spoiler Alert)

Tokoh utama dalam film ini adalah Agu (diperankan Abraham Attah), dia tinggal di sebuah negara di Afrika yang tidak disebutkan namanya. Dia bersama keluarganya tinggal di daerah “Buffer Zone”, daerah yang aman dari peperangan dan dijaga oleh ECOMOG (Pasukan Penjaga Afrika Barat). Walau dikatakan aman, tapi tetap ada saja masalah di daerah tersebut, misalnya seperti pengungsi.

Kedamaian di daerah tersebut tidak berlangsung lama. Pemerintahan berkuasa akhirnya jatuh dan pemberontak mulai mencoba menguasai negara. Kebanyakan penduduk melarikan diri ke ibukota demi keselamatan mereka, ayah Agu mampu membiayai istri dan dua anak bungsunya untuk melarikan diri. Sementara Agu, kakak lelaki, ayah dan kakeknya harus tetap tinggal.

Gambar 3 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Terjadi pertempuran antara militer dan pemberontak di daerah tersebut dan dimenangkan oleh militer pemerintah. Penduduk yang tersisa di daerah tersebut, yang sebenarnya hanya ingin menjaga harta benda mereka, dianggap sebagai pemberontak oleh militer dan dieksekusi. Agu adalah satu-satunya yang berhasil selamat dari eksekusi tersebut.

Agu berlari menuju daerah hutan hingga akhirnya bertemu dengan pasukan pemberontak, NDF, yang sebagian besar anggotanya adalah warga sipil dan anak-anak. Komandan dari pasukan tersebut (diperankan Idris Elba) menyukai Agu dan memaksanya untuk bergabung. Setelah menjalani latihan yang keras dan pertumpahan darah pertamanya, Agu benar-benar menjadi tentara anak.

Gambar 5 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Agu memiliki seorang teman di pasukan itu, seorang anak yang tidak pernah bicara dan berusia sama dengannya, Strika. Suatu malam, Komandan memanggil Agu ke kamar pribadinya, dia memuji Agu karena ketangguhan dan kesetiannya, bahkan memberikan topi keberuntungan. Tapi, malam itu pula, Komandan melakukan tindak asusila pada Agu. Strika yang melihat Agu setelah keluar dari kamar sang komandan berusaha menyemangatinya.

Setelah beberapa pertempuran dan penyergapan, pasukan tersebut berhasil mengambil alih kota dan membunuh para penduduk. Pasukan ini akhirnya diundang ke markas pasukan pemberontak. Sang Komandan berharap dia akan dipromosikan menjadi Jendral, sayangnya pemimpin pemberontak yang disebut Supreme Commander justru menurunkan pangkatnya menjadi staff pengamanan dan letnan dari pasukan tersebutlah yang akan menggantikannya.

Gambar 7 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Komandan sebenarnya benar-benar merasa terhina, untuk ‘merayakan’ promosi letnan pasukannya menjadi komandan, dia mengajak pasukannya ke rumah bordil. Saat seluruh pasukan sedang bersama wanita mereka, sang letnan ditembak dan dianggap sebagai ‘kecelakaan’. Dia menuduh sang komandan telah membunuhnya. Tidak terima dengan hal tersebut, komandan dan pasukannya meninggalkan markas pemberontak.

Kini, mereka harus menghadapi PBB, pasukan pemerintah bahkan pasukan pemberontak sendiri. Mereka kehilangan banyak orang, termasuk Strika. Mereka mendirikan pertahanan di pertambangan emas selama beberapa bulan hingga mereka kehabisan makanan, air bersih bahkan amunisi.

Sang komandan awalnya berusaha membujuk Agu dengan mengatakan bahwa “semua anak harus melindungi ayahnya”. Tapi, Agu akhirnya berbalik melawan sang komandan. Komandan pun akhirnya membiarkan pasukannya pergi.

Gambar 9 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Letnan baru dari pasukan tersebut, Preacher mengajak orang-orangnya menyerah pada PBB. Anak-anak dari pasukan tersebut dibawa ke sekolah misionaris di tepi pantai yang cukup aman. Anak-anak lain menikmati kehidupan mereka kecuali Agu yang tersiksa oleh pengalaman perangnya dan selalu mengalami mimpi buruk.

Agu memberitahu konsultan di sekolahnya bahwa dia telah melakukan hal-hal yang mengerikan. Dia tau bahwa sang konsultan tidak akan mengerti tentang perang. Agu justru bercerita tentang kehidupannya dan keluarga sebelum perang melanda. Pada akhirnya, Agu bergabung dengan anak-anak lain dan mulai bermain di pantai.


 

Gambar 11 untuk Review Beasts of No Nation, Perang dari Sudut Pandang Menarik

Film ini cukup ‘sederhana’, drama yang dihadirkan tidak berat, latar belakang ceritanya juga tidak membebani. Tapi, pesan dan cerita yang disajikan benar-benar bisa tersampaikan. Pesan bahwa perang dapat berdampak sangat ganas, apalagi bagi anak-anak.

Penampilan dari Idris Elba dan Abraham Attah juga sangat mengesankan dalam film ini. Penggambaran bagaimana penampilan pemberontak yang berasal dari warga sipil dan sumber daya yang terbatas sangat menjanjikan. Untuk yang suka dengan film bertema drama atau perang, film ini bisa menjadi pilihan yang sangat menarik.

  • Facebook
  • Twitter
  • Google+
  • Linkedin
  • Pinterest

Leave a Comment

This div height required for enabling the sticky sidebar