Tangan Midas Sutradara Anime Makoto Shinkai

Banyak orang masih menganggap anime sebagai tontonan anak-anak, kartun ala Jepang ini tidak lagi berkisah hanya tentang anak kelas 5 SD dan robot kucing berwarna biru dari masa depan. Lihatlah bagaimana kejamnya visual yang ditampilkan “Attack on Titan” atau bagaimana sedih dan menyentuhnya anime karya Studio Ghibli atau sutradara Makoto Shinkai.

Salah satu karya pertama dari Makoto Shinkai yang saya tonton berjudul Byousoku 5 Centimeter atau 5 Centimeter per Second dalam versi Inggrisnya. Kalau tidak salah saya menontonnya sewaktu SMA dan saya tersentuh dengan kisahnya. Bukan hanya ceritanya yang berhasil menyentuh, tampilan visualnya yang cukup berbeda (dalam artian indah) bagi saya waktu itu, yang lebih sering menonton Naruto atau One Piece juga membuatnya tidak terlupakan.

Karya lain dari Makoto Shinkai yang saya tonton adalah sebuah anime “pendek” berjudul Kotonoha no Niwa atau Garden of Words yang reviewnya pernah saya tuliskan di blog ini. Anime tersebut sekali lagi membuat saya kagum pada Makoto Shinkai, karena saya yang awalnya mengira kalau karya-karyanya merupakan kisah romantis yang kompleks dengan visual menganggumkan ternyata salah.

Lewat Garden of Words, dia menyampaikan kisah romantis yang lebih sederhana bahkan mungkin sedikit aneh bagi sebagian orang. Namun, lewat visualisasi mengagumkan dan karakter tokoh yang sangat kuat, anime ini berhasil menyentuh siapapun yang menontonnya.

Karya terbaru dari si sutradara tangan Midas adalah Kimi no Na Wa atau Your Name yang berhasil mengantongi pendapatan mencapai $148 juta dalam 52 hari penayangannya. Dengan menjual lebih dari 12 juta tiket, anime ini berhasil menempati posisi kelima dalam daftar anime terlaris sepanjang sejarah anime Jepang.

Banyak orang membandingkan antara Makoto Shinkai dengan Hayao Miyazaki, salah satu pentolan dari Studio Ghibli. Tapi, keduanya sebenarnya memiliki style yang berbeda tapi tetap bisa menghadirkan karya yang sangat indah untuk ditonton.

Hayao Miyazaki seperti sudah diketahui banyak pecinta anime Jepang adalah orang yang bertanggungjawab atas banyak karya-karya hebat dari Studio Ghibli seperti The Wind Rises, Ponyo, My Neighbor Totoro hingga anime berpendapatan tertinggi sepanjang masa Spirited Away. Karya-karyanya kebanyakan bisa ditonton oleh segala usia, dengan hal-hal menyeramkan dibuat sehalus mungkin dan gerak karakter yang halus.

Sementara Makoto Shinkai hadir dengan anime yang lebih muram secara style dan emosi, namun di sisi lain juga penuh dengan warna-warna indah. Karya-karyanya banyak menampilkan tempat-tempat yang ada di dunia nyata, namun digambarkan kembali secara apik. Salah satu hal terbaik yang saya selalu nikmati dari karyanya adalah penggambaran dan pewarnaan langit yang bagi saya belum ada duanya.

Jika melihat pada anime-anime sekarang yang semakin beragam, mengangkat bukan hanya tema-tema yang “nyaman” untuk anak-anak saja, tapi juga tema-tema yang khusus bagi orang dewasa. Ditambah dengan visual, musik dan penjiwaan karakter dari para pengisi suara, sepertinya sudah bukan waktunya lagi mengkhususkan anima untuk anak-anak atau para otaku saja.

Kelebihan Investasi Online Di Trimegah
41 Istilah Penerbangan Ini Wajib Kamu Ketahui Sebelum Naik Pesawat
Rumah Dijual di Depok Harga Di Bawah 100 Juta
Rumah Dijual Di Bandung Harga Murah Tanpa Perantara
Tips Sukses Merintis Bisnis Barber Shop di Kota Besar
Mengalahkan Facebook, Instagram jadi Sarang Cyber-Bully Nomor 1
Bahayanya Kencing di Kolam Renang
Hellblade, Game “Indie AAA” dan Penyakit Kejiwaan
Review Nine Lives, Film untuk Keluarga Pecinta Kucing
Electro Swing, Perpaduan yang Terasa “Salah”
Tangan Midas Sutradara Anime Makoto Shinkai
Review Doctor Strange, Serasa Salah Minum Obat
Bedanya Suka, Cinta & Nafsu
Keseringan Chatting Bikin Hubungan Renggang?
Penulis Buku Harian Adalah Tipe Kekasih yang Baik
Kado Natal Unik Untuk Gamer Terkasih
Mengalahkan Facebook, Instagram jadi Sarang Cyber-Bully Nomor 1
Qualcomm dan Vivo Memamerkan Fingerprint Dibawah Layar
KSKAS Malware Menyerang Android via Download APK Otomatis
Hellblade, Game “Indie AAA” dan Penyakit Kejiwaan