The Wind Rises, Pesawat dan Kisah Hidup Pembuatnya

Mimpi adalah sesuatu yang sangat indah, tapi mewujudkannya menjadi kenyataan bukanlah hal yang mudah. Setiap orang pasti punya mimpi, tapi tidak semua orang berani dan mau berjuang untuk menjadikannya kenyataan. Jika mimpimu tidaklah mudah, maka berusahalah semaksimal mungkin untuk bisa menjadikannya nyata.

The Wind Rises, sebuah film tentang mimpi Jiro Horikoshi, seseorang yang desainer dan teknisi pesawat terbang dari Jepang. Dia sudah punya mimpi untuk bisa terbang dengan pesawat buatannya sejak kecil, bahkan dia sering bermimpi terbang dengan pesawat buatannya.

The Wind Rises, Pesawat dan Kisah Hidup Pembuatnya 1

Sayangnya, karena dia menderita rabun, maka di dunia nyata, dia tidak mungkin menjadi seorang pilot dan menerbangkan pesawat. Untungnya, Caproni, desainer pesawat dari Italia yang juga idola Jiro mengatakan padanya dalam mimpi bahwa, Mendesain pesawat lebih menyenangkan daripada menerbangkannya.

Jiro memiliki seorang kawan bernama Honjo yang sudah bersama sejak di perguruan tinggi. Mereka berdua sama-sama mendesain pesawat tapi dengan tujuan berbeda, Honjo memilih mendesain pesawat untuk militer sementara Jiro lebih memilih mendesain pesawat yang benar-benar bagus dan mengalahkan teknologi Jerman, tempat dimana dia pernah menimba ilmu bersama Honjo,

Mengambil setting pada perang dunia kedua, film ini mempertahankan gaya animasi dari Ghibli Studio yang selalu khas. Banyak kejadian nyata yang dimasukan sebagai unsur utama film ini seperti Gempa Bumi Dahsyat di Kanto pada 1923 dan wabah TBC yang sempat menjadi epidemi di Jepang.

Kembali ke kisah tentang Jiro, dia bergabung dengan sebuah perusahaan pesawat terbang pada 1927 lalu menjadi teknisi pesawat paling inovatif dan disegani di dunia. Kemampuan dan kejeniusannya menghasilkan banyak inovasi yang membuat pesawat buatannya jadi lebih ringan, lebih kuat dan lebih cepat.

The Wind Rises, Pesawat dan Kisah Hidup Pembuatnya 3

Jiro kemudian jatuh cinta pada Nahoko, seorang gadis yang pernah dia selamatkan saat gempa Kanto 1923. Orangtua keduanya sudah setuju dengan pertunangan mereka, tapi Jiro kemudian harus menerima kenyataan bahwa Nahoko menderita TBC yang saat itu belum ditemukan obatnya dan sedang menjadi epidemi di Jepang.

Adik perempuan Jiro, Kayo, seorang dokter,  mengatakannya padanya bahwa pernikahan mereka akan berakhir dengan buruk. Pada akhirnya, Nahoko kembali ke sanatorium dan meninggalkan surat untuk suami, keluarga serta teman-temannya.

Diakhir film, terlihat para pilot pesawat Mitsubishi A6M Zero memberikan hormat pada Jiro. Zero, merupakan pesawat Jepang yang cukup ditakuti pada Perang Dunia II. Film ini juga merupakan film terakhir dari seorang Hayao Miyakazi.

Kata Pencarian Terkait